Default
smallets
normal
larges
largest
normal
Satu persatu kuperhatikan wajah-wajah yang tertunduk sedih. Para lelaki dengan kopiah hitam dan para wanita yang berkerudung atau berjilbab hitam. Sebagian berpakaian seadanya, sebagian lagi nampak mengenakan pakaian putih atau hitam. Hanya satu kesamaan mereka, semua sedih, berkurung duka.
smallets
normal
larges
largest
heading
sub heading
mirror heading
normal
Satu persatu kuperhatikan wajah-wajah yang tertunduk sedih. Para lelaki dengan kopiah hitam dan para wanita yang berkerudung atau berjilbab hitam. Sebagian berpakaian seadanya, sebagian lagi nampak mengenakan pakaian putih atau hitam. Hanya satu kesamaan mereka, semua sedih, berkurung duka.
Satu lagi pemakaman yang harus kuhadiri.
Pemakaman salah satu anggota keluarga yang selama ini terkenal sebagai
ibu yang baik, bibi yang manis, istri yang mencintai suaminya, nenek
yang selalu melindungi dan saudari yang penyayang. Dia bibiku, yang
meninggalkan tujuh anak yang semuanya telah memberinya cucu-cucu yang
manis. Pergi dengan mendadak, karena sakit jantung yang ternyata telah
lama ia derita tanpa pernah kami sangka.
Hadir di sini membuat hatiku remuk, suasana yang menyedihkan. Larut dalam kedukaan mendalam, karena rasa kehilangan ini menyakitkan. Aku melihat kesedihan di wajah, tubuh dan mata semua orang yang hadir, dan itu sangat menghancurkan hati.
Perlahan sepanjang prosesi, kenangan-kenangan indah dan manis memutar kembali. Wajah-wajah yang sama disini dulu tertawa lebar, saling memeluk dan menggoda. Pusat perhatian mereka, wanita yang kini terbujur kaku selalu bisa mengundang kebahagiaan hadir setiap kali ia ada. Senyumnya, humorisnya, bahkan omelannya yang disertai gaya yang lucu takkan pernah bisa lenyap begitu saja meski kini ia pergi. Sadari atau tidak, kami telah kehilangan wanita baik yang penyayang, bertubuh gemuk namun cantik itu.
Senyum dan tawa anggota keluargaku kini lenyap tak bersisa. Hanya ada airmata dan isak emosional yang menyebar. Jeritan kecil terdengar kala jenazah mulai diturunkan. Itulah saat dimana ingin sekali aku memeluk mereka satu persatu dan berkata “tak apa-apa, jangan bersedih”
Tapi itu tak mungkin…
Semua takkan terasa sama lagi, setidaknya tidak untuk hari ini dan mungkin hari-hari selanjutnya. Mereka, dan juga kami semua telah kehilangan satu wanita seperti malaikat yang selama ini selalu menjadi bagian hidup hampir di seluruh anggota keluarga.
Aku ingin meyakinkan mereka… bahwa suatu
hari nanti, akan datang hari yang baru, dimana matahari kembali terlihat
indah dan dunia terasa nyaman sehingga hati yang sedihpun lenyap tak
bersisa.
Tentu, bukan hari ini. Hari saat mereka
tak bisa berkata atau berbuat apa-apa untuk mencegah kepergian sang
Bunda kecuali menangis dan mengusap air mata. Hari dimana mereka hanya
bisa duduk dan mengenang sosok yang dicintai hingga tubuh lelah tak
bertenaga. Hari ini memang hari yang berat, seakan-akan tak masa depan
lagi di depan sana.
Sebuah hari baru akan datang, suatu hari
pada suatu waktu atau satu jam pada suatu masa ketika mereka,
saudara-saudariku tercinta merasa telah bisa melalui hari-hari yang
berat ini. Aku ingin yakinkan itu, meski hanya semenit… lalui dengan
harapan, yang terbaik untuk Bunda yang telah pergi dan ketabahan tumbuh
di hati mereka, lalu berdoa agar Tuhan memberi tempat yang layak bagi
malaikat yang selama ini telah menjaga keluarganya dengan baik.
Hari ini, mungkin mereka tak membutuhkan
diriku, mungkin juga besok mereka tetap tak membutuhkan diriku. Tapi aku
ingin mereka tahu, bahwa aku di sini menunggu jika mereka membutuhkan
diriku.
Untuk menjadi teman bicara, untuk mendengar keluh sedih mereka, agar mereka bisa berteriak melepas emosi.
Untuk menjadi teman bicara, untuk mendengar keluh sedih mereka, agar mereka bisa berteriak melepas emosi.
Aku di sini. Seseorang yang akan memberi
pelukan, atau hanya sekedar menggenggam tangan. Agar mereka tahu, mereka
tak sendiri. Aku ada di sini, selalu… untuk mereka.
